Forum voor papua pagina
Startpagina.nlDochters op alfabetCategorieenVoor kidsLuister radioKijk TVMeer Startpagina

papua.startpagina.nl/prikbord

Ga naar discussie: VorigeVolgende
Ga naar: DiscussielijstNieuw berichtZoekenLog inPrint
 • Uitgeklapt op datum • Uitgeklapt met draadjes

KOMNAS HAM calls for harshest possible punishment for army member who murdered the Rev. Ginderman Gire and wounded Gembala Pitinius in Tingginambut on 17 March 2011

Gepost door: KOMNAS HAM ()
Datum: 25 juli 2011 17:34

Komnas HAM calls for harshest possible punishment

In a statement issued today, 25 July, the Papuan branch of Komnas HAM, the National Human Rights Commission, has called on the authorities to mete out the harshest possible punishment for the member of the army who murdered the Rev. Ginderman Gire and wounded Gembala Pitinius in Tingginambut on 17 March 2011.

Deputy chairman of Komnas HAM, Mathius Murib, said he appreciated the decision of the Indonesian army to launch legal proceedings against those who tortured and killed Rev Ginderman and wounded Gembala Pitinius. The latter man survived after being tortured. in Tingginambut, Puncak Jaya district. 'We very much hope that the perpetrators will be punished as harshly as possible according to the law so as to act as a deterrent, to ensure that such a crime doesn't happen again.'

This was in connection with the forthcoming trial of the three army officers who had committed acts of violence against two civilians

As has been reported, the trial is now under way before a military tribunal of three officers: First Sergeant Torang Sihombing, NCO Hery Purwanto and NCO Hasirun. The three are charged with using violence and torture according to articles 351 and 103 of the Military Code for causing the death of Ginderman Gire.

The crime againt Ginderman occuurred on 17 March 2010, At the time, First Lieutenant Sudarman as commander of Post Illu Puncak Jaya had ordered the three accused to go on patrol in Pos Illu Post, in the Mulia area in Puncak Jaya. The three men followed a convoy of vehicles which were transporting foodstuffs. After reaching Pintu Angin Alome, one of the drivers of the trucks reported to First Sergeant Saut Torang Sihombing that a local man named Ginderman Gire had asked for fuel. whereupon the sergeant asked why he was asking for fuel, when another man Pitinius Kogoya also asked for fuel. When they said nothing, Sergeant Sihombing became very angry and struck Ginderman in his chest and hit Pitinus in the face.

After being struck, Ginderman said: 'I'm not afraid of the army and I have friends up in the mountains who are well armed.'

The sergeant then handed the two men over to another soldier, Hery Purwanto for questioning. During the questioning, the two men were beaten. Pitinus was able to escape and jumped into a ravine. One of the soldiers fired shots into the air as a warning while Ginderman tried to grab a weapon from Hery Puwanto.. The officr fired his SS! V-1 hitting him in the chest. The soldiers looked down and realised that the man they had shot was dead.

The soldiers then reported the incident to their superior and were ordered to get rid of the body. The body of Ginderman was then loaded onto a truck and driven away. When they reached the Tingginambut bridge,they threw the body into the river.








LAPORAN URGENT:



GEREJA-GEREJA DI TANAH WEST PAPUA DALAM KEADAAN ANCAMAN SERIUS DARI TENTARA NASIONAL INDONESIA (TNI)



Di laporkan oleh: Socratez Sofyan Yoman

West Papua, 22 Juli 2011



Di luar Papua seperti di pulau Jawa, Gereja-gereja dibakar dan ditutup dan orang-orang Kristen dilarang beribadah di tempat-tempat terbuka oleh penduduk sipil, tetapi Gereja-gereja di Tanah Papua dibakar, dituduh separatis, diancam, diintimdasi dan diteror oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).



1. Pada tanggal 30 April 2011, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Erfi Triassunu mengancam dan menuduh Gereja Kemah Injil Papua (KINGMI) mendukung gerakan Papua Merdeka. Terbukti dengan Dokumen rahasia bernomor: R/773/Iv/2011 tertanggal 30 April dengan Klasifikasi: Rahasia dan berperihal: Konflik Internal antara elit Pengurus Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) dengan elit Pengurus Gereja Kemah Injil (KINGMI) Papua dengan beberapa point sebagai berikut: (a) Dengan pendirian Sinode Gereja Kemah Injili (KINGMI) Papua, akan menciptakan Gereja berbasis kedaerahan/kesukuan untuk mendapatkan pemberian dana dari Pemerintah sebanyak mungkin. (b) Dengan pendirian Gereja yang berbasis kedaerahan/kesukuan bertujuan memperkuat jaringan masyarakat Papua dalam upaya memperjuangkan cita-cita kemerdekaannya. (c) Dengan pendirian Gereja yang berbasis kedaerahan/kesukuan akan lebih mudah dijadikan sebagai kendaraan politik dengan dalih wakil umat.



2. Pada tahun 2003 di Kuyawagi Tentara Nasional Indonesia melakukan operasi membunuh penduduk sipil dan membakar gedung-gedung gereja Baptis, Kemah Injil (KINGMI), Gereja Injili di Indonesia (GIDI) dan membakar gedung-gedung sekolah, poliklinik milik gereja dan membakar rumah-rumah penduduk.



3. Sejak tahun 2004-2011 ini operasi Militer terus berlanjut di Puncak Jaya dan membunuh Pdt. Elisa Tabuni dan banyak penduduk sipil yang dibunuh dan disiksa sampai bulan Juli ini. Gedung-gedung gereja dan rumah-rumah rakyat dibakar dan penduduknya diusir dari kampung halaman mereka. Penduduk sipil berada dalam ketakutan yang luar biasa dan kehidupan ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang sangat memprihatinkan. Kejahatan kemanusian yang sangat kejam dan tidak manusiawi terjadi di Puncak Jaya.



4. Bantuan dana keagamaan yang bersumber dari dana Otonomi Khusus yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Papua untuk Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua tahun 2010 sebesar Rp 600.000.000; ( enam ratus juta rupiah) dan tahun 2011 sebesar Rp 300.000.000; (tiga ratus juta rupiah) dihentikan atas dasar tekanan militer Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Papua dan seluruh dana ini diserahkan kepada anggota Gereja Baptis yang diangkat, dibina dan dipelihara oleh aparat keamanan Indonesia. Alasan yang digunakan militer Indonesia adalah saya (Socratez Sofyan Yoman) adalah pendukung perjuangan keadilan, perdamaian, hak asasi manusia dan kesamaan derajat di Papua Barat. Komentar di berbagai media massa mengkritik dan tidak mendukung pemerintah Indonesia dan berpihak kepada penduduk sipil yang berjuang untuk penentuan nasib sendiri. Banyak menulis buku yang melawan Pemerintah Indonesia.



5. Pada bulan Agustus 2010, saya pernah dipanggil oleh pihak kepolisian Indonesia. Tetapi, saya melawan dengan alasan bahwa saya tuan dan pemilik negeri dan Tanah Papua Barat dan orang-orang pendatang tidak boleh mengatur saya dan juga tidak boleh menempatkan saya sebagai orang pendatang di negeri dan tanah leluhur saya. Saya seorang pemimpin gereja dan gembala umat mempunyai tanggungjawab dan tugas untuk melindungi dan menjaga domba-domba Allah karena itu aparat keamanan tidak layak memanggil atau menangkap saya. Dan juga saya penyambung lidah umat yang berkwajiban menyampaikan seruan-seruan moral dan suara kenabian dan pastoral bagi umat tertindas, membisu dan tak bersuara karena ketakutan. Latar belakang pemanggilan adalah saya membuat pernyataan di media massa bahwa konflik di Puncak Jaya sejak tahun 2004-2010 bahkan sampai tahun ini diciptakan oleh aparat keamanan untuk kepentingan mendapat uang, naik pangkat, penambahan pasukan tentara, untuk membangun basis-basis TNI dan untuk menciptakan rasa trauma jangka panjang penduduk asli. Terbukti bahwa Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya menyediakan dana Rp 3.000.000.000; (Tiga Milyar ) setiap tahun dari sejak tahun 2008 untuk aparat keamanan dengan istilah Dana Pengendalian Keamanan. Terhitung dari 2008-2011 telah dianggarkan dana sebesar Rp 15.000.000.000 (Lima belas Milyar) untuk aparat keamanan di Puncak Jaya.









Seruan:



1. Kami menyerukan dan memohon dukungan Gereja-gereja dan lembaga-lembaga Kristen, pekerja lembaga hak asasi manusia dan solidaritas masyarakat di tingkat Internasional untuk mendorong dan menekan Pemerintah Indonesia untuk menghentikan semua kekerasan aparat keamanan di Tanah Papua Barat.



2. Kami menyerukan dan memohon dukungan dan perhatian dari Pemerintah, anggota Parlemen dan anggota Kongres dan Senat di tingkat Internasional untuk menghentikan kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua Barat.



3. Kami menyerukan dan memohon kepada Pemerintah, anggota Parlemen, Kongres dan Senat, Gereja-gereja, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pekerja Hak Asasi Manusia di tingkat internasional untuk mendukung dialog damai tanpa syarat antara Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua yang dimediasi pihak ketiga netral untuk penyelesaian persoalan kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat secara menyeluruh. Karena, UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otonomi Khusus yang menjadi solusi persoalan kemanusiaan di Tanah Papua telah GAGAL TOTAL. Dalam Otonomi kejahatan dan kekerasan kemanusiaan, ketidakadilan, marjinalisasi dan eksploitasi meningkat tajam dan sangat memprihatinkan masa depan penduduk asli Papua.







Socratez Sofyan Yoman

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua

Alamat: Jl. Jeruk Nipis Kotaraja, PO Box 1212
Telp. 62-967-583462
HP: 08124888458rang


Onderwerp Geschreven door Gepost
  KOMNAS HAM calls for harshest possible punishment for army member who murdered the Rev. Ginderman Gire and wounded Gembala Pitinius in Tingginambut on 17 March 2011
KOMNAS HAM 25/07/2011 17:34
Ga naar: DiscussielijstZoekenLog in
Je naam: 
Je e-mailadres: 
Onderwerp: 
captcha
Vul hier bovenstaande code in:
 
Privacy- en cookiebeleid - Copyright - Disclaimer - Alle dochters - Forum en chatregels - Contact
© 1998-2011 Startpagina B.V. - papua.startpagina.nl - onderdeel Sanoma Media Netherlands groep